(Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MAN 1 Musi Banyuasin dan penulis buku Manajemen Pendidikan Islam dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis)
Lima Kriteria Guru Menurut Al-Qur’an dan Hadis
Orang tua menitipkan anaknya kepada guru setiap pagi. Mereka percaya guru akan menjaga dan mendidik anak itu. Karena itu, memilih guru tidak boleh sekadar melihat ijazah atau nilai tes. Al-Qur’an dan Hadis memberi lima ukuran untuk menimbang siapa yang layak memikul amanah mendidik. Ulama seperti Wahbah Az-Zuhaili menegaskan, jabatan adalah amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Jabatan guru termasuk di dalamnya. Namun amanah guru lebih dari sekadar mengajar. Guru mendidik, dan mendidik berarti memberi teladan dengan hati yang ikhlas.
Ukuran pertama: Kuat dan Amanah. Dalam QS. Al-Qashash ayat 26, salah seorang dari dua perempuan dalam kisah Nabi Musa berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, pekerjakanlah dia. Sesungguhnya orang terbaik yang engkau pekerjakan adalah yang kuat lagi dapat dipercaya.” Bagi guru, kuat berarti cakap. Ia menguasai materi, pandai menjelaskan, mampu memakai teknologi, dan sanggup membina siswa untuk lomba dan ujian. Amanah berarti jujur. Ia menilai apa adanya, tidak mengubah nilai demi menyenangkan siapa pun, dan menjaga rahasia siswa. Guru yang cerdas tetapi tidak jujur merusak kepercayaan. Guru yang jujur tetapi tidak cakap mengecewakan murid. Madrasah membutuhkan keduanya sekaligus.
Ukuran kedua: Selaras Nilai. QS. Ali Imran ayat 118 berpesan, “Wahai orang-orang beriman, jangan jadikan orang di luar golonganmu sebagai teman kepercayaan.” Ayat ini mengajarkan kehati-hatian memilih orang kepercayaan, yaitu orang yang mengetahui rahasia dan arah lembaga. Guru termasuk orang dalam itu. Ia memegang kepercayaan orang tua dan memegang kunci hati siswa. Madrasah menanamkan iman, akhlak, dan ilmu, sehingga gurunya perlu sejalan dengan nilai dasar itu, baik dalam keyakinan maupun teladan. Bayangkan siswa yang diajari salat tepat waktu, tetapi melihat gurunya menyepelekannya. Siswa akan bingung. Anak lebih cepat meniru teladan daripada mengingat nasihat.
Ukuran ketiga: Taat dan disiplin. QS. An-Nisa ayat 59 berbunyi, “Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan taatilah para pemegang urusan di antara kamu.” Di sekolah, ini tampak sederhana: guru hadir tepat waktu, menyiapkan perangkat ajar, mengikuti aturan madrasah, dan mendukung program bersama. Satu guru yang sering terlambat bisa meruntuhkan wibawa seluruh aturan. Namun ketaatan ini bukan ketaatan buta. Rasulullah SAW menegaskan, kita wajib taat selama tidak diperintah berbuat maksiat. Guru yang baik patuh pada pimpinan, tetapi menolak perintah yang menuntunnya berbohong atau melanggar kebenaran.
Ukuran keempat: Bekerja dengan tanggung jawab penuh. QS. At-Taubah ayat 105 memerintahkan, “Bekerjalah! Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu. Kelak kamu dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan apa yang telah kamu kerjakan.” Guru yang bertanggung jawab tidak mengajar sungguh-sungguh hanya saat ada pengawas. Ia tetap menyiapkan pelajaran saat lelah, tetap sabar menghadapi siswa yang sulit, dan tetap menuntaskan tugas saat tidak ada yang memperhatikan. Ia sadar bahwa setiap jam mengajar akan ditanyakan kelak, bukan hanya oleh kepala madrasah, tetapi juga oleh Allah.
Ukuran kelima: Berani menasihati dengan benar. QS. Al-Asr ayat 3 menyebut orang-orang yang beriman, beramal saleh, “saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” Nabi SAW juga bersabda bahwa agama adalah nasihat (HR Muslim). Guru yang baik tidak diam melihat kekeliruan, baik pada siswa, sesama guru, maupun kebijakan lembaga. Ia menyampaikan masukan dengan jujur, sopan, dan niat memperbaiki, bukan untuk mempermalukan. Ia juga berlapang dada ketika orang lain menasihatinya. Madrasah yang sehat lahir dari guru yang saling meluruskan.
Semua ukuran ini bermuara pada satu hal: Keikhlasan. Mengajar menyampaikan pelajaran, sedangkan mendidik menyentuh hati. Guru yang hanya mengajar masuk saat bel berbunyi dan pulang saat bel berbunyi. Guru yang mendidik memperhatikan murid yang murung, mendoakan murid yang bandel, dan tetap hadir meski tidak ada tambahan penghasilan. Nabi SAW bersabda bahwa setiap amal bergantung pada niatnya (HR Bukhari dan Muslim). Ikhlas berarti mendidik karena Allah, bukan semata karena gaji, jabatan, atau pujian. Keikhlasan itu harus tampak dalam teladan. QS. Al-Ahzab ayat 21 menyatakan bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi orang yang mengharap rida Allah dan hari akhir. QS. Ash-Shaff ayat 2 dan 3 pun menegur, “Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” Murid mungkin lupa rumus yang kita ajarkan, tetapi mereka lama mengingat sikap kita.
Lima ukuran ini bukan untuk menakut-nakuti guru. Lima ukuran ini adalah cermin dan peta jalan. Kepada para pimpinan madrasah, saya mengajak: pilih dan bina guru dengan lima ukuran ini. Kepada Bapak dan Ibu guru, mari mendidik dengan ikhlas dan menjadi teladan, bukan sekadar mengajar. Sebab madrasah yang dipercaya masyarakat tidak lahir dari gedung yang megah, melainkan dari guru yang kuat, amanah, ikhlas, dan layak diteladani.

